Program Dedi Mulyadi Kirim Siswa Gemulai Masuk Barak Militer Tuai Pro-Kontra

Avatar photo
Siswa Gemulai Masuk Barak Militer

Obrolan.ID – Program kirim siswa gemulai masuk barak militer dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menyedot perhatian publik.

Gagasan untuk mengirim siswa gemulai masuk barak militer menuai sorotan luas, terlebih setelah pernyataan dari seorang influencer TikTok dengan jutaan pengikut, Riezky Kabah, viral di media sosial.

Riezky Kabah, yang akrab disapa Iky, dengan gaya khasnya menanggapi ide Dedi Mulyadi tersebut melalui video berdurasi singkat di akun TikTok pribadinya.

Dengan lebih dari 2,5 juta pengikut, Iky menilai kebijakan itu tidak akan efektif dalam membentuk ulang karakter siswa yang dinilai berperilaku tidak sesuai stereotip gender maskulin.

“Siswa gemulai masuk barak militer? Aduh Pak Dedi, itu enggak akan mempan sumpah,” ujar Iky sambil tersenyum dalam videonya yang tayang pada Minggu (11/5/2025).

Ia menambahkan bahwa pengalaman pribadinya membuktikan bahwa tekanan untuk berubah justru memperkuat identitas diri yang sebelumnya coba ditekan.

Iky mengaku pernah mengalami upaya “normalisasi” saat masih bersekolah. Ia bahkan sempat dihukum dan dilatih agar bersikap lebih maskulin. Namun, menurutnya, pendekatan itu justru membuatnya semakin mantap dengan identitas dirinya.

“Aku pernah banget disuruh jadi laki sejati. Tapi ya makin ke kanan, makin nyaman dengan diri sendiri,” ucapnya dengan gaya khas.

Dalam video yang kini telah ditonton jutaan kali itu, Iky juga sempat menyentil bahwa memasukkan siswa seperti dirinya ke barak militer malah bisa menimbulkan efek sebaliknya.

“Yang ada makin seneng enggak sih? Banyak cowok-cowok cakep di situ. Malah makin betah,” kelakarnya.

Tak pelak, video tersebut memancing berbagai reaksi dari netizen. Ada yang mendukung Iky dan menilai bahwa kebijakan tersebut terlalu konservatif, ada pula yang penasaran apakah program siswa gemulai masuk barak militer benar-benar akan dijalankan.

Sejumlah komentar netizen menyoroti bahwa perubahan perilaku tidak bisa dipaksakan, apalagi dengan pendekatan militer. “Perubahan harus dari dalam diri, bukan dari tekanan,” tulis salah satu pengguna TikTok.

Lainnya justru menyindir, “Siap-siap dipanggil Pak Dedi tuh, kayak yang sebelah tapi beda topik.”

Di sisi lain, Dedi Mulyadi menyatakan bahwa gagasan itu muncul dari aspirasi masyarakat. “Banyak yang usul, katanya ‘Pak, anak-anak yang gemulai masukin ke pendidikan militer biar tegap.’ Ya kita dengarkan saja,” ungkap Dedi saat diwawancarai.

Namun, ia menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah anak-anak yang terlibat dalam tindakan kriminal atau kenakalan remaja. “Yang penting kita fokus dulu pada yang bikin resah. Karena ada yang sampai membunuh,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa program pembentukan karakter berbasis militer telah mulai dijalankan bekerja sama dengan TNI dan Polri di sejumlah daerah rawan di Jawa Barat.

Dedi mengaku senang melihat perkembangan siswa yang sudah berada di barak militer. Menurutnya, mereka merasa lebih sehat dan disiplin.

“Mereka happy karena gizinya cukup, istirahatnya cukup, olahraganya juga cukup. Sekolah pun berjalan,” jelasnya.

Meski begitu, polemik tetap berlanjut, terutama karena program siswa gemulai masuk barak militer dinilai sebagian pihak sebagai bentuk pemaksaan identitas.

Para pengamat sosial mengingatkan bahwa pendekatan militer tidak selalu relevan untuk menangani isu keberagaman gender di lingkungan pelajar.

Kini, wacana ini menjadi perbincangan hangat, tak hanya di kalangan masyarakat Jawa Barat, tetapi juga secara nasional.

Apakah benar pendidikan militer bisa menjadi solusi untuk membentuk karakter? Ataukah kebijakan ini justru membuka ruang baru bagi diskriminasi?

Satu hal yang pasti, selama gagasan siswa gemulai masuk barak militer belum memiliki dasar hukum yang jelas dan pendekatan psikologis yang tepat, polemiknya akan terus bergulir. Dan Iky, dengan segala gayanya, menjadi simbol suara-suara yang merasa tidak terwakili oleh kebijakan itu.

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Obrolan.id.