Lirik Bayar Bayar Bayar Sukatani Band Viral karena Menyentil Polisi

favicon
Lirik Bayar Bayar Bayar Sukatani

Obrolan – Baru-baru ini, lirik Bayar Bayar Bayar Sukatani Band mendadak viral dan mencuri perhatian di media sosial karena menyentil polisi.

Lirik Bayar Bayar Bayar Sukatani Band sukses menjadi viral di media sosial dan mencuri perhatian banyak orang karena liriknya yang secara langsung menyentil polisi.

Lagu yang merupakan bagian dari album Gelap Gempita tersebut menciptakan kontroversi karena lirik yang dianggap mengkritik institusi kepolisian, Polri.

Sebagai band punk asal Purbalingga, Jawa Tengah, Sukatani Band tak pernah ragu untuk mengekspresikan pemikiran mereka melalui musik yang penuh dengan kritik sosial.

Namun, viralitas lagu ini juga membawa respons yang beragam dari masyarakat, termasuk permintaan maaf dari pihak band.

Sukatani Band dan Lirik yang Menyentil Polri

Sukatani Band dikenal dengan gaya musik post-punk yang kental dengan nuansa perlawanan. Band yang terdiri dari duo Syifa Al Lufti (Alectroguy) dan Novi Citra (Twister Angel) ini tidak pernah takut untuk menyampaikan pesan sosial melalui lirik-lirik lagu mereka.

Album Gelap Gempita, yang dirilis oleh band ini, memuat lagu-lagu yang penuh dengan semangat perlawanan, salah satunya adalah “Bayar Bayar Bayar.”

Lirik dari lagu “Bayar Bayar Bayar” menyebutkan kalimat “bayar polisi” berulang kali, yang merujuk pada sejumlah kegiatan yang harus “dibayar” kepada polisi, baik itu untuk keperluan administratif seperti pembuatan SIM atau kasus yang melibatkan aparat hukum.

Lagu ini ditafsirkan sebagai sindiran terhadap praktik-praktik suap dan penyalahgunaan kekuasaan yang melibatkan oknum kepolisian.

Lirik Bayar Bayar Bayar Sukatani Band

Berikut adalah lagu dengan lirik Bayar Bayar Bayar Sukatani Band yang kini telah ditarik dari berbagai platform digital:

Mau bikin SIM bayar polisi
Ketilang di jalan bayar polisi
Touring motor gede bayar polisi
Angkot mau ngetem bayar polisi
Aduh aduh ku tak punya uang
Untuk bisa bayar polisi

Mau bikin gigs bayar polisi
Lapor barang hilang bayar polisi
Masuk ke penjara bayar polisi
Keluar penjara bayar polisi
Aduh aduh ku tak punya uang
Untuk bisa bayar polisi

Mau korupsi bayar polisi
Mau gusur rumah bayar polisi
Mau babat hutan bayar polisi
Mau jadi polisi bayar polisi
Aduh aduh ku tak punya uang
Untuk bisa bayar polisi

Lirik Bayar Bayar Bayar Sukatani ini dianggap oleh sebagian orang sebagai kritik tajam terhadap aparat kepolisian dan tidak jarang terlibat dalam praktik suap yang merugikan masyarakat.

Viral di Media Sosial dan Permintaan Maaf Sukatani Band

Tak lama setelah lagu ini viral di berbagai platform media sosial, pernyataan maaf dari Sukatani Band langsung muncul.

Mereka mengumumkan penarikan lagu “Bayar Bayar Bayar” dari berbagai platform musik digital seperti Spotify dan YouTube.

Dalam sebuah unggahan di akun Instagram resmi @sukatani.band, Alectroguy dan Twister Angel meminta maaf kepada Kapolri dan institusi Polri atas lirik lagu tersebut.

“Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri dan institusi Polri atas lagu ciptaan kami dengan judul lagu Bayar Bayar Bayar yang liriknya ‘bayar polisi’ yang telah kami nyanyikan sehingga viral di beberapa platform media sosial,” ungkap Alectroguy dan Twister Angel.

Penarikan lagu ini dilakukan setelah mereka mempertimbangkan dampak sosial dan reaksi publik terhadap lirik yang dianggap menyinggung aparat kepolisian.

Meski demikian, Sukatani Band menjelaskan bahwa tujuan awal lagu tersebut bukanlah untuk menyerang secara langsung, melainkan sebagai bentuk kritik terhadap oknum-oknum yang melanggar aturan.

Sukatani Band dan Peran Musik dalam Kritik Sosial

Selain kontroversi yang ditimbulkan oleh lagu “Bayar Bayar Bayar,” Sukatani Band tetap mempertahankan karakteristik musik mereka yang kuat dalam menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Dengan genre musik post-punk yang sangat dipengaruhi oleh era 1980-an, Sukatani Band selalu menyelipkan pesan-pesan yang menggugah kesadaran sosial dalam setiap lagu mereka.

Melalui album Gelap Gempita, band ini juga menyajikan lagu-lagu lain yang tak kalah berbobot, seperti “Semakin Tua Semakin Punk,” “Tanam Kemandirian,” dan “Alas Wirasaba.” Lagu-lagu ini menggambarkan perjuangan para petani, ketimpangan sosial, dan realitas konsumerisme yang semakin membelenggu masyarakat.

Lagu-lagu Sukatani selalu berusaha mengajak pendengar untuk berpikir kritis tentang berbagai isu sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi di sekitar mereka.

Meskipun demikian, band ini tidak menghindari kontroversi dan selalu berani mengungkapkan kebenaran meski harus menghadapi reaksi dari berbagai pihak.

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Obrolan.id.