Obrolan.id – Hamas secara tegas menolak usulan gencatan senjata yang diajukan oleh Israel, yang menurut mereka akan memaksa semua kelompok bersenjata di Gaza untuk “menyerah” kepada Israel.
Penolakan ini datang dalam situasi yang semakin tegang di Gaza, yang telah dilanda perang selama lebih dari 18 bulan.
Hamas mengkritik Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mereka tuduh menyabotase upaya-upaya untuk menengahi gencatan senjata dan mengakhiri konflik yang telah menelan banyak korban jiwa.
Sami Abu Zuhri, pejabat senior Hamas, menyampaikan pendapatnya kepada Al Jazeera Arabic pada hari Senin, 14 April 2025, bahwa Hamas tetap terbuka terhadap segala tawaran yang dapat meringankan penderitaan rakyat Palestina.
Namun, ia menegaskan bahwa usulan terbaru dari Israel mengharuskan Palestina untuk “menyerah,” yang tidak akan diterima oleh Hamas.
Menurut Abu Zuhri, Netanyahu menetapkan kondisi yang tidak realistis dan hanya bertujuan untuk menggagalkan perjanjian gencatan senjata.
Penolakan Hamas terhadap Gencatan Senjata
Abu Zuhri menyatakan, “Netanyahu menetapkan kondisi yang mustahil untuk menyabotase perjanjian gencatan senjata,” dan menambahkan bahwa dalam usulan tersebut, Israel tidak berkomitmen untuk menghentikan perang sepenuhnya.
Sebaliknya, Israel hanya berfokus pada pembebasan tawanan sebagai bagian dari kesepakatan bertahap.
Hamas menegaskan bahwa mereka siap untuk membebaskan semua tawanan, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal, sebagai imbalan untuk mengakhiri perang dan menarik diri dari Gaza.
“Menyerah bukanlah pilihan bagi gerakan Hamas, dan kami tidak akan menerima penolakan atas keinginan rakyat kami,” tegas Abu Zuhri.
Usulan Gencatan Senjata Israel
Menurut dokumen yang diperoleh Middle East Eye, Israel mengusulkan inisiatif gencatan senjata yang terdiri dari 12 poin, dengan masa tenang 45 hari.
Dalam usulan tersebut, Israel meminta agar setengah dari tawanan yang ditahan di Gaza dibebaskan dalam pekan pertama sebagai imbalan untuk memungkinkan masuknya pasokan makanan dan bantuan ke wilayah yang tengah dilanda perang.
Namun, selama lebih dari enam pekan, Israel, dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat dan negara-negara barat lainnya, menolak untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk, yang telah memperburuk krisis di Gaza.
Organisasi Non-Pemerintah Palestina (PNGO) memperingatkan bahwa situasi di Gaza telah mencapai “tahap kelaparan tingkat lanjut,” dengan banyak fasilitas penting, seperti gudang makanan dan pabrik desalinasi air, dihancurkan dalam serangan udara.
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, bahkan menyatakan bahwa “bahkan sebutir gandum pun” tidak akan diizinkan untuk masuk ke Gaza. Hal ini semakin memperburuk penderitaan warga Palestina yang terperangkap di tengah konflik.
Tuduhan Genosida dan Pelanggaran HAM
Sejak dimulainya perang, Israel menghadapi tuduhan serius dari berbagai pihak, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok hak asasi manusia terkemuka, yang menuduh negara tersebut melakukan genosida terhadap warga Palestina. Pada bulan November, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, dengan tuduhan melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Selain itu, laporan komite khusus PBB menyebutkan bahwa Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang, yang dapat menyebabkan “kemungkinan genosida” di Gaza.
Korban Tewas di Gaza
Sejak dimulainya perang, jumlah korban tewas di Gaza semakin meningkat. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 50.000 orang telah tewas akibat serangan Israel, sementara lebih dari 10.000 orang lainnya dilaporkan hilang dan diduga telah meninggal. Serangan terus berlangsung meskipun terdapat upaya internasional untuk menengahi gencatan senjata, dan situasi di Gaza semakin memburuk.
Hamas Tolak Gencatan Senjata sebagai Solusi
Hamas secara jelas menyatakan bahwa mereka menolak usulan gencatan senjata yang dipaksakan oleh Israel dan tidak akan pernah menerima syarat-syarat yang merugikan rakyat Palestina.
Dengan tegas, mereka menekankan bahwa “menyerah” bukanlah pilihan dan bahwa mereka akan terus berjuang untuk kepentingan rakyat Palestina, menggunakan semua kartu tekanan yang mereka miliki terhadap Israel.
Sementara itu, dunia internasional terus memantau situasi di Gaza, dengan harapan adanya solusi damai yang dapat menghentikan kekerasan dan meringankan penderitaan warga Palestina.
Perkembangan lebih lanjut mengenai situasi ini akan sangat bergantung pada dinamika diplomatik yang terjadi dalam beberapa minggu mendatang, terutama terkait dengan upaya gencatan senjata dan pengiriman bantuan kemanusiaan yang mendesak.
Sumber: Sindonews
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).











