Obrolan – Sudah tahu apa penyebab Sritex bangkrut dan PHK massal karyawan? Temukan jawabannya melalui ulasan mendalam disini.
PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahaan tekstil yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu raksasa industri tekstil Indonesia, resmi dinyatakan pailit dan tutup total mulai Sabtu, 1 Maret 2025.
Keputusan ini berdampak besar pada ribuan pekerja dan industri tekstil di Indonesia, dan menjadi cermin dari berbagai masalah yang menggerogoti keuangan perusahaan selama beberapa tahun terakhir.
Penyebab Sritex Bangkrut Masalah Keuangan yang Menumpuk
Salah satu faktor utama penyebab Sritex bangkrut adalah tumpukan utang yang mencapai Rp29,8 triliun.
Masalah ini sudah berlangsung sejak jauh sebelum pandemi COVID-19, dengan utang perusahaan yang terus membengkak.
Berdasarkan laporan keuangan pada September 2023, utang Sritex tercatat mencapai Rp25 triliun.
Meskipun sempat mencoba merestrukturisasi utangnya, bahkan dengan janji untuk membayar utang pada 2022, perusahaan gagal memenuhi kewajiban tersebut.
Pada akhirnya, utang yang tak terbayar mengarah pada keputusan pailit yang diumumkan oleh Pengadilan Niaga Semarang pada 25 Januari 2025.
Pada Juni 2024, total utang jangka panjang dan pendek Sritex tercatat mencapai sekitar USD1,6 miliar, sebagian besar berasal dari pinjaman bank dan obligasi.
Gagalnya pembayaran utang ini memperburuk kondisi finansial perusahaan dan merusak citra Sritex yang dulunya dikenal sebagai produsen tekstil besar dengan kapasitas produksi mencapai 24 juta potong kain per tahun.
Krisis Global dan Persaingan yang Ketat
Selain masalah internal, penyebab Sritex bangkrut juga terpuruk akibat krisis global yang berdampak pada penurunan pendapatan perusahaan.
Pandemi COVID-19, yang mengganggu rantai pasokan global, ditambah dengan persaingan ketat dari negara-negara seperti China, memaksa Sritex kesulitan menjaga daya saing produk-produknya di pasar internasional.
Kondisi geopolitik yang tidak stabil, seperti perang Rusia-Ukraina dan ketegangan Israel-Palestina, juga memengaruhi permintaan pasar Eropa dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, kebijakan harga yang menguntungkan produk tekstil China, seperti pengenaan bea masuk antidumping dan tarif yang lebih rendah, membuat produk-produk tekstil Indonesia semakin sulit bersaing.
Masalah Pembayaran Utang kepada Kreditur
Selain masalah internal dan persaingan global, penyebab Sritex bangkrut juga menghadapi masalah hukum dengan kreditur yang memperburuk situasi keuangan perusahaan.
Salah satunya adalah gugatan yang diajukan oleh CV Prima Karya pada 2021 terkait utang sebesar Rp5,5 miliar.
Meski berjanji untuk terus beroperasi, kegagalan Sritex membayar utang ini memperburuk kondisi finansial mereka.
Anak perusahaan Sritex, PT Senang Kharisma Textil (SKT), juga mengalami masalah serupa, yakni gugatan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) yang diajukan oleh bank dan pemasoknya.
Semua ini semakin menambah beban keuangan yang akhirnya mendorong Sritex ke jurang kebangkrutan.
Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Karyawan
Penyebab Sritex bangkrut tidak hanya berdampak pada keuangan perusahaan, tetapi juga memengaruhi lebih dari 10.000 karyawan yang selama ini bergantung pada perusahaan untuk mencari nafkah.
Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terjadi sejak Januari 2025, yang menyebabkan ribuan keluarga menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Pada Februari 2025, gelombang PHK besar-besaran kembali terjadi di berbagai anak perusahaan Sritex, menambah panjang daftar pekerja yang kehilangan pekerjaan.
PHK ini mengirimkan dampak negatif pada sektor bisnis dan manufaktur Indonesia, terutama di industri tekstil yang sebelumnya menjadi pilar penting ekonomi negara.
Kebangkrutan Sritex memberi pesan keras tentang tantangan besar yang dihadapi oleh industri tekstil Indonesia, di tengah persaingan global dan ketidakpastian ekonomi.
Pemerintah diharapkan dapat memberikan dukungan bagi karyawan yang terkena PHK untuk membantu mereka mencari pekerjaan baru, serta mengurangi dampak sosial yang ditimbulkan oleh kebangkrutan perusahaan besar ini.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).











